Friday, 20 March 2015

Review Dying Light PC !!

Sekarang, kita kehadiran satu game zombi lainnya yaitu Dying Light buatan Techland. Ya, jika kamu belum sadar, mereka adalah developer dari seri Dead Island. Jadi, apakah game buatan developer game zombi yang cukup terkenal ini akan memuaskan hasrat kamu untuk mendapatkan pengalaman bermain game zombi di tengah banyaknya game zombi yang ada sekarang? Saya bukan seseorang yang ahli dalam bidang zombi, tapi saya yakin satu hal: Dying Light cukup menyenangkan untuk dimainkan oleh siapapun.






Seharusnya saya tidak sendirian di sini jika saya berpikir bahwa industri game sudah dipenuhi dengan banyak judul game yang mengangkat tema zombi. Mulai dari game mobile hingga game mainstream untuk console dan PC sudah diwarnai game bertema mayat hidup tersebut dan jumlahnya tidaklah sedikit. Tapi saya tidak kaget juga melihat hal seperti ini terjadi karena zombi adalah sebuah tema yang memang seru dan bisa dieksplor di berbagai aspek. Dari segi aksi kita bisa mendapatkan kepuasan menghajar mahkluk mirip manusia tanpa perlu merasa bersalah dan dari segi cerita kita bisa melihat seberapa mengerikannya manusia yang ingin bertahan hidup. Oh, jangan lupa juga dengan darah dan potongan tubuh yang bertebaran di mana-mana. Cukup kelam ya? Tapi justru itu yang membuat segala sesuatu bertema zombi sangat laku dan memiliki penggemar setia.
Dying Light | Screenshot 1

Welcome To Harran

Dalam Dying Light, kamu akan bermain sebagai Kyle Crane, seorang agen rahasia yang ditugaskan untuk menyusup ke dalam kota Harran yang dikarantina karena sebuah virus yang membuat orang-orang di sana berubah menjadi zombi. Di kota tersebut kamu harus melakukan berbagai tugas yang diajukan oleh organisasi GRE sebagai atasanmu. Namun di tengah misi tersebut, kamu bertemu dengan sekelompok orang yang masih selamat dan cerita akan bergulir ke arah dilema apakah kamu akan tetap mengikuti misi utama yang diberikan organisasimu atau harus menyelamatkan para penghuni kota Harran yang masih hidup.
Dari segi cerita, saya cukup terkejut karena jarang sekali ada game zombi yang menyelipkan sedikit bumbu espionase dalam plot ceritanya. Hal ini membuat cerita tidak melulu berpusat pada tema zombi tradisional seperti bertahan hidup saja, tapi juga memberikan sedikit perspektif yang segar. Selain itu bahaya yang disajikan dalam game ini tidak terletak pada zombi saja, tapi juga para survivor lainnya yang berkelompok. Sayangnya cerita utama tersebut akan segera terlupakan begitu saja dikarenakan antagonis yang terkesan klise serta berbagai tumpukan hal yang mengalihkan perhatian dalam game ini.

Kesimpulan

Dying Light jagatplay part 2 (4)
Dying Light memenuhi semua janji yang ia tawarkan selama beberapa bulan terakhir ini. Ia hadir sebagai sebuah game post-apocalyptic yang menyenangkan, cukup inovatif, berbeda, dan tentu saja – seru di saat yang sama. Ia tampil sebagai sebuah paket game yang siap untuk menyita perhatian Anda untuk waktu yang cukup lama.
Terlepas dari rasa pesimis yang cukup kuat bahwa industri game masih bisa menggali sesuatu yang baru dari genre zombie yang kian usang, Dying Light melemparkan bukti sebaliknya. Kombinasi gameplay ala Dead Island dan Parkour ala Mirror’s Edge menghasilkan pengalaman open world post-apocalypse yang cukup unik, dan yang pastinya seru. Ada kesenangan tersendiri, bergerak cepat dari satu bangunan ke bangunan lainnya, berburu resource, menyelesaikan ragam side quest yang ada, sembari memastikan Anda dibekali dengan ragam senjata unik dan kuat untuk memastikan probabilitas lebih tinggi ketika berujuang bertahan hidup. Namun tidak hanya elemen action. Dying Light juga terhitung berhasil menyematkan sensasi horror yang cukup kentara ketika malam tiba, dimana Anda akan diburu dengan kesempatan kecil untuk melawan balik. Kombinasi semua elemen ini melahirkan sensasi game zombie terbaik yang pernah kami temukan.
Namun tentu saja, ada beberapa catatan yang pantas diarahkan untuk proyek teranyar Techland ini. Salah satu yang masih terasa cukup mengganggu adalah limitasi di sistem kamera yang terkadang sulit untuk mengkomodasi gerakan parkour yang Anda butuhkan, apalagi jika level yang harus Anda lewati benar-benar berbentuk vertikal ke atas, seperti memanjat tower atau menara jembatan di salah satu misi sampingan yang ada. Hal mengecewakan lain adalah tidak adanya sistem fast travel, yang memaksa Anda benar-benar harus berlari dari satu titik ke titik lain. Ini bukan masalah soal bagaimana kita terbiasa dimanjakan dengan fitur ini, namun absennya fast travel membuat back tracking misi-misi lawas jadi kerepotan tersendiri. Mengapa? Karena sebagian besar misi sampingan terletak di area dekat dengan misi utama yang ada. Jadi jika Anda bersikukuh untuk menyelesaikan misi utama terlebih dahulu dan baru menyelesaikan misi sampingan ketika bosan, misalnya, Anda akan berlari kesana-kemari hanya untuk tiba di lokasi tertentu.
Namun terlepas dari kekurangan tersebut, Dying Light memenuhi semua janji yang ia tawarkan selama beberapa bulan terakhir ini. Ia hadir sebagai sebuah game post-apocalyptic yang menyenangkan, cukup inovatif, berbeda, dan tentu saja – seru di saat yang sama. Ia tampil sebagai sebuah paket game yang siap untuk menyita perhatian Anda untuk waktu yang cukup lama.

Kelebihan


Lighting yang memukau!
Anda akan bersenang-senang dengan game yang satu ini!
  • Visualisasi apik
  • Cerita yang cukup mengundang rasa penasaran
  • Parkour menawarkan sensasi yang berbeda
  • Beragam resource dan senjata yang bisa dikumpulkan / dibuat
  • Efek malam yang memang terasa mencekam
  • Multiplayer yang cukup menyenangkan
  • Sistem level dan skill sesuai dengan frekuensi aktivitas Anda
  • Gore content!

Kekurangan

Sayangnya, di beberapa titik - kamera menjadi sumber frustrasi tersendiri.
Sayangnya, di beberapa titik – kamera menjadi sumber frustrasi tersendiri.
  • Sistem kamera yang terkadang menyebalkan
  • Tidak ada sistem fast travel
Cocok untuk gamer: pecinta Dead Island atau Mirror’s Edge, yang senang dengan konsep post-apocalyptic
Tidak cocok untuk gamer: yang mudah pusing dengan kacamata orang pertama – bahkan di game FPS sekalipun